TM45H

Cinta di Batas Lapang

#Bismillah
#Day45
#NarasiLiterasiNegeri
#IndonesiaMenulis
#TantanganMenulis45Hari
#Artsamawa

#Sahira
#Cinta_di_Batas_Lapang
(Part 69)

Hati Sahira serasa dihujam ratusan paku, sudah sekuat ini untuk meminta berpisah. Namun, sikap Fawwaz barusan membuat kebimbangan dalam dirinya lagi.

Mengakhiri hubungan dan melepaskan seseorang yang sudah lama menemani Sahira adalah hal terberat dalam hidupnya. Namun, mempertahankan hubungan yang sudah tidak sehat pun bukan hal yang ringan.

Setiap harinya, ia selalu dihadapkan pada rasa kecewa dengan Fawwaz yang tak mampu memberikan kebutuhan batinnya. Di sisi lain, ia harus terus bertahan dengan mengulang momen-momen indah yang pernah dirasakan bersama.

Selama ini, Sahira merasa jika ia sudah memberikan yang terbaik untuk suaminya dengan cinta yang besar dan jiwa yang lapang. Akan tetapi, seolah dia sendiri yang berjuang dan berusaha keras untuk membuat rumah tangganya bertahan sementara Fawwaz hanya menjalani tanpa menunjukkan upayanya untuk meperbaiki keadaan. Kini, rasanya perjuangan Sahira seolah berada di titik lelah dan menemui jalan buntu. Rasa cinta yang dahulu luas untuk suaminya kini berada di batas lapang.

Dering telepon genggam memecah keheningan malam.

“Kak Galuh,” gumam Sahira membaca nama pada layar.

“Assalamualaikum, Kak,” sapa Sahira.

“Waalaikumsalam, Ra. Bagaimana kabar kamu?” tanya Kak Galuh.

“Alhamdulillah baik. Maaf, kemarin tidak sempat balas pesan kakak karena banyak pekerjaan,” ungkap Sahira.

“Iya, ga papa. Insyaallah kakak mengerti, gimana jadinya pernikahan kamu? Mau bertahan atau disudahi?” tanya Kak Galuh.

“Aku belum tau, Kak. Bingung aku, dilema berat. Galau,” keluh Sahira.

“Cerita, Ra!” pinta Kak Galuh.

“Aku takut ka, takut tidak bisa mencium bau surga saat membaca hadis, “Seorang istri yang mudah meminta cerai suaminya karena permasalahan sepele, maka tidak akan mencium bau surga.” HR Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah),” tutur Sahira.

“Aku juga takut menjadi janda, Kak. Di masyarakat kita, bercerai itu seolah hina dan menjadi janda itu seolah bukan perempuan baik. Aku takut menghadapi itu semua,” lanjut Sahira meringis.

“Tapi aku khawatir, tak bisa menguasai syahwatku, Ka. Aku takut berbuat maksiat dengan hawa nafsuku yang bisa saja tak terkendali apalagi banyak teman lelaki di tempat kerja yang suka padaku. Bisa saja aku berbuat dosa,” ujar Sahira.

“Bingung aku, Kak?” cakap Sahira dengan lirih.

“Sahira sayang, hadis yang kamu sebutin memang benar tapi bagi istri yang suaminya sudah memberikan haknya namun ia kurang bersyukur. Sedangkan kamu, lain cerita. Coba lihat di buku nikah ada sighat taklik yang menyatakan jika suami tidak memberikan nafkah wajib atau nafkah batin selama tiga bulan boleh minta cerai. Kamu sudah lebih dari tiga bulan, enam tahun. Udah terlalu lama, Sahira,” papar Kak Galuh.

“Perihal kedua, ngapain kamu dengar pendapat orang lain, memang mereka yang kasih kamu makan? Dalam agama Islam, cerai itu boleh, Ra. Tidak hina,” tandas Kak Galuh.

“Jika pernikahan membawamu ke arah dosa maka lepaskan jika mengarah kebaikan maka pertahankan, itu saja pesan Kakak. Salat istikharah ya, meminta petunjuk dan kemantapan hati dari Allah,” saran Kak Galuh.

Perasaan ragu dan kebingungan terus membayangi Sahira. Lantas, keputusan apakah yang harus diambil oleh Sahira.

Bertahan atau berpisah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *