TM45H

Cinta di Batas Lapang

#Bismillah
#Day44
#NarasiLiterasiNegeri
#IndonesiaMenulis
#TantanganMenulis45Hari
#Artsamawa

#Sahira
#Cinta_di_Batas_Lapang
(Part 68)

Tatapan mata Sahira lurus membidik Fawwaz hingga membuatnya gugup. Fawwaz begitu terkejut kala melihat Sahira dapat melontarkan kalimat yang tak pernah ia duga sebelumnya. Fawwaz diam membeku seperti patung es.

Suasana mendadak hening, Sahira merasakan seolah-olah waktu terhenti. Ia menunggu lisan Fawwaz terucap dengan perasaan yang bercampur aduk. Menunggu lama, Fawwaz tetap saja bergeming.
Fawwaz bangkit berdiri dan pergi begitu saja meninggalkan Sahira, lantas ke luar rumah tanpa berkata sedikit pun.

Sahira tercengang melihat Sikap Fawwaz yang seolah tak mempedulikan dan menganggap tidak berarti dirinya hingga menambah luka hati dan jiwa.

Memang benar, ini bukan yang pertama kali Fawwaz tak mengacuhkannya. Namun, sikap Fawwaz kali ini membuat harga dirinya terkoyak, amarahnya meletup-letup dalam dirinya.

Saat matahari tenggelam dan malam datang tapi Fawwaz tak kunjung pulang.

“Angkat dong, Kak,” kata Sahira lirih sambil menggenggam benda pipih dengan mata yang berkaca-kaca.

Setelah lebih dari lima kali panggilan telepon ditolak oleh Fawwaz, Sahira pun mencoba mengirimkan pesan.

[Kak, kamu di mana? Seharian kamu nggak pulang. Aku khawatir denganmu.]

Melihat pesannya terbaca tapi tak terbalas membuat Sahira semakin geram. Ia pun lantas memainkan jemari dan mengetik kembali pesan untuk Fawwaz.

[Kak, tolong balas pesanku. Mau kamu apa? Jangan seperti ini, lari dari masalah. Jika dalam waktu enam puluh menit kamu belum pulang, maka aku pun akan pergi meninggalkan rumah ini.]

Seketika terdengar suara pintu terbuka. Sahira lantas menoleh ke arah pintu dan terlihat Fawwaz hendak melangkah perlahan masuk ke dalam rumah.

Bruk!

Fawwaz berlutut di hadapan Sahira.

“Bangun, Kak. Kumohon jangan seperti ini,” ucap Sahira.

“Maafkan aku, Ra,” pinta Fawwaz lirih.

“Tolong bangun, Kak! Jangan rendahkan dirimu dengan bersikap seperti ini. Suami adalah pemimpin dan memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari pada seorang istri. Seharusnya aku yang berlutut bukan kamu. Bangun, Kak,” ujar Sahira memegang bahu Fawwaz.

Fawwaz beranjak berdiri lantas mendekap Sahira dengan erat seraya berkata,”Maafkan aku, ya. Sungguh aku takut kehilanganmu, Ra.”

Fawwaz melepaskan pelukan, tangannya membelai pipi Sahira.

“Maafkan aku, maaf karena aku selalu membuatmu menangis,” sesal Fawwaz.

Sahira menatap wajah Fawwaz yang memelas, ia sungguh tidak mengerti dengan sikap suaminya yang tak ingin berpisah tapi tak mau juga berusaha untuk menyelesaikan masalah dalam rumah tangganya.
Perlahan Sahira mendekatkan wajahnya ke hadapan Fawwaz.

“Suamiku, aku sangat mencintai kamu. Aku ingin hidup selamanya denganmu hingga tua nanti. Aku ingin kita tetap menjadi pasangan suami istri di dunia dan akhirat. Aku berusaha keras menjadi istri yang baik, menjaga kehormatanku dan kehormatanmu sebagai suamiku. Aku pun tak pernah membuka aib keburukanmu pada siapapun karena kamu imamku. Aku ingin masuk surga dengan berbakti kepadamu tapi kumohon jangan siksa batinku. Aku mohon padamu …,” tutur Sahira dengan lembut.

Fawwaz mengusap bulir bening yang membasahi pipi lembut Sahira.

“Aku tak suka melihatmu menangis jadi terserah kamu. Aku ikut maumu, apapun keputusanmu” ucap Fawwaz.

(Bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *