TM45H

Cinta di Batas Lapang

#Bismillah
#Day43
#NarasiLiterasiNegeri
#IndonesiaMenulis
#TantanganMenulis45Hari
#Artsamawa

#Sahira
#Cinta_di_Batas_Lapang
(Part 67)

Pesan sudah terkirim, berlinang air mata Sahira mengiringi tulisan yang dikirim untuk suaminya. Tak lama, centang dua di pojok bawah nampak berwarna biru menandakan pesan Sahira sudah terbaca.

Perasaan Sahira bercampur baur, hatinya berdebar menanti balasan pesan dari Fawwaz. Nampak di layar ponsel, Fawwaz sedang mengetik. Rasa tak tenang melanda jiwa Sahira, ia tak percaya bisa menggungkapkan perasaannya meskipun hanya melalui pesan singkat.

[Kamu bicara apa sih, Dek? Jangan bicara yang aneh-aneh.] [Jangan main-main dengan kata pisah, Dek.] [Anak bisa kita usahakan, Dek. Kalau Allah belum kasih, kita bisa adopsi anak.]

Pesan singkat berderet terus bergeming di gawai Sahira.

Sahira diam sesaat sebelum membalas pesan Fawwaz. Setelah lama berpikir dan menimbang-nimbang, akhirnya Sahira membalas pesan Fawwaz. Berulang kali, jemari Sahira mengetik pesan tapi tak kunjung dikirim. Ia menarik napas panjang, menenangkan dirinya.

Akhirnya dengan tekad yang kuat, ia kumpulkan keberanian untuk mengirimkan pesan kepada Fawwaz.

[Suamiku, aku tidak pernah ingin bermain-main dengan kata pisah. Dari awal pernikahan, tak pernah terbesit kata pisah dalam pikiranku. Namun, setelah semua yang terjadi membuat pikiranku berubah. Bukan sekedar anak yang aku inginkan, tapi kebutuhan batinku. Aku perempuan biasa yang memiliki hasrat dan keinginan akan kebutuhan biologis. Aku sangat khawatir jika tak mampu mengendalikan diri dan terjerumus pada lembah dosa. Aku tak mau nantinya kamu harus menanggung dosa atas kesalahanku sebagai istrimu. Tolong pikirkan dan berikan solusi jika kamu menginginkan kita tetap bersama.]

Tak berapa lama, balasan pesan dari Fawwaz pun masuk pada gawai.

[Berikan saya kesempatan dalam tiga bulan ini ya, Dek. Aku janji akan memperbaikinya.] [Iya], balas Sahira singkat.

Detik demi detik berlalu, menit demi menit melangkah, jam demi jam, hari demi hari, dan bulan demi bulan bergulir tanpa henti seolah bergerak dengan cepat. Namun, tak nampak perubahan yang terjadi pada diri Fawwaz dan rumah tangganya.
Batin Sahira begitu tercabik-cabik, sudah lebih dari tiga bulan Sahira menantikan perubahan sikap Fawwaz. Namun, Ia masih saja berkelik saat meminta untuk ke dokter dengan berbagai alasan.

Hari Jumat yang harusnya menjadi hari yang penuh berkah tapi menjadi hari kelabu yang tak mungkin dilupakan Sahira.

“Kak …,” lirih Sahira.

“Dulu aku menerimamu karena aku percaya kamu mampu memberikan kebahagiaan untukku. Namun, kenyataannya kamu menyiksa batinku dengan tidak pernah menyentuhku dari awal kita menikah hingga enam tahun lamanya. Kenapa, Ka? Apa kamu tak pernah mencintai aku? Apa aku punya salah padamu? Apa aku tak menarik untukmu?”Lantas, kenapa kamu menikahiku? Apa tujuanmu menikahiku?” tanya Sahira dengan berurai air mata.

Sesaat jadi hening, hati Sahira berkecamuk. Telihat wajah Fawwaz sedikit pucat.

“Aku tahu, Kak. Perceraian dibenci Allah, raja setan pun akan memberi mahkota pada anak buahnya yang berhasil memisahkan suami isteri. Namun, jika pernikahan menimbulkan keburukan dan kedzoliman maka menurutku perceraian adalah solusinya. Masalah ini sudah terlalu lama, apa kamu mau menanggung dosa jika aku berbuat maksiat? Tolong ambil keputusan, Kak” pekik Sahira.

(Bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *