TM45H

Cinta di Batas Lapang

#Bismillah
#Day42
#NarasiLiterasiNegeri
#IndonesiaMenulis
#TantanganMenulis45Hari
#Artsamawa

#Sahira
#Cinta_di_Batas_Lapang
(Part 66)

Air mata tak berhenti membasahi pipi Sahira selepas ia pulang dari rumah Kyai yang disambanginya tadi pagi. Sahira mengambil album foto pernikahannya yang diletakkan di laci meja, terlihat betapa bahagianya wajah Sahira ketika mengenakan gaun berwarna ungu sepadan dengan jilbab berhiaskan mahkota perak. Air mata pun kian melimpah ruah kala menatap satu per satu foto-foto tersebut.

Sahira tak pernah menyangka jika rumah tangga yang dibayangkannya tak seindah kenyataan. Ia harus berpura-pura bahagia dengan pernikahannya di hadapan semua orang. Bertahun-tahun ia berupaya keras menjadi seorang istri yang sabar menghadapi kekeliruan suaminya.

Selama enam tahun pernikahannya, ia tak pernah mendapatkan nafkah batin dari suaminya. Berbagai usaha telah Sahira coba untuk membujuk dan merayu suaminya agar mau pergi ke dokter, tapi tak pernah sekali pun dijalani oleh lelaki itu. Perempuan berhati lapang pun nyaris putus asa dan menyerah.

Tawaran kebahagiaan dari laki-laki lain terus berdatangan seolah menguji Sahira. Sempat terpikir oleh Sahira untuk berselingkuh dan mendapatkan janin dari lelaki lain. Namun, ia selalu menepis ide buruk yang menjijikan tersebut. Ia sangat takut jika Allah murka padanya. Ia pun memilih menjaga kesuciannya hanya untuk suami yang sangat dicintai dan disayanginya. Meskipun batinnya begitu tersiksa karena belum mendapatkan kebahagiaan seperti perempuan-perempuan lainnya.

Suara motor Fawwaz membuyarkan lamunan Sahira. Ia lantas menyeka air mata dan menutupinya dengan bedak yang tebal.

“Sayang …,” sapa Fawwaz seperti biasa mencium kening Sahira saat di rumah.

Tindakan Fawwaz yang setiap hari memperlakukannya dengan baik sering kali membuat Sahira heran.

“Ia bisa menciumku tapi tak bisa memberiku nafkah batin,” guman Sahira heran.

“Makan dulu, Kak. Mumpung masih hangat,” ajak Sahira menyodorkan nasi dan sop kambing.

“Wah, enak banget,” ungkap Fawwaz.

Sahira sengaja menyiapkan sop kambing agar dapat membangkitkan gairah suaminya. Usai makan, Sahira meminta Fawwaz untuk mandi.

“Ntar aja, Dek. Aku nonton televisi dulu,” ucap Fawwaz.

“Terserah, aku capek,” geram Sahira meninggalkan Fawwaz dan memilih tidur.

Seperti malam-malam sebelumnya, Sahira tidur dengan rasa kecewa sedangkan Fawwaz menganggap sikap ambek istrinya hal biasa yang keesokan paginya akan kembali membaik seperti sedia kala.

Keesokan paginya, Fawwaz pamit tanpa mendapati senyuman dari wajah istrinya. Ia berlalu pergi dan membiarkan istrinya merengut.

Sunyi tersibak oleh denting pesan, tertera nama Kak Galuh.

[Ra, bagaimana keputusan kamu? Pisah atau bertahan?]

Sahira memilih tak membalasnya karena ia sendiri pun tak tau harus menjawab apa. Pergolakan batin Sahira semakin mendalam antara harus bertahan atau melepaskan. Sahira takut malu menyandang status janda, status yang seolah buruk di mata masyarakat. Namun, rasanya ia sudah lelah dengan pernikahan seperti ini.

Jemari Sahira mulai bergerak di atas benda pipih, mengetik pesan untuk suaminya.

[Suamiku, aku ingin kita bahagia dengan memiliki keluarga yang utuh. Aku bermimpi menjadi seorang ibu. Aku ingin punya anak. Maukah kamu mewujudkan mimpiku? Jika memang kamu tak mampu, maka lepaskanlah ikatanmu dengan aku.] (Bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *