TM45H

Cinta di Batas Lapang

#Bismillah
#Day41
#NarasiLiterasiNegeri
#IndonesiaMenulis
#TantanganMenulis45Hari
#Artsamawa

#Sahira
#Cinta_di_Batas_Lapang
(Part 65)

Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam, Fawwaz masih sibuk dengan laptopnya.

“Kak, udah dong. Sibuknya di kantor aja, jangan di rumah juga. Masa laptop dipegang terus, aku nggak” keluh Sahira.

“Aku lagi kejar target laporan akhir bulan, Dek. Kamu tidur duluan aja,” ucap Fawwaz seraya menatap laptop.

Embusan napas Sahira terasa berat, dadanya sempit dan sesak. Rasa kesal dan amarah memuncak seakan ingin membanting laptop itu.

“Kak …, ayo,” rayu Sahira sambil memeluknya dari belakang.

“Tanggung, Dek,” elak Fawwaz.

Raut kesedihan di wajah Sahira nampak jelas setelah Fawwaz menolak ajakannya padahal ia sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Riasan wajah dan gaun merah yang cantik serta parfum yang melekat di tubuhnya seakan sia-sia malam itu. Sahira memilih tidur dengan menatap sendu punggung suaminya. Air mata tanpa suara pun mengantar tidurnya hingga terlelap.

Sahira terbangun dari mimpi buruknya semalam. Ia menatap langit dari jendela kamarnya yang ternyata belum pancarkan pagi, hanya terdengar lantunan qasidah alam yang syahdu beriring merdu. Badan Sahira terasa pegal, kepala pusing dan mata nya pun sembab. Dengan langkah gontai, ia menuju kamar mandi.

Di bawah guyuran air, badan Sahira terasa lebih segar, walaupun hatinya masih terasa sakit selepas semalam ia terabaikan oleh suami sendiri.
Usai berpakaian dan salat subuh, Sahira menatap wajah Fawwaz hendak membangunkannya.

“Sampai kapan kamu bertahun-tahun seperti ini, Kak. Sakit rasanya,” gumam Sahira.

Sahira menghela napas panjang.

“Bangun, Kak,” bisik Sahira sambil menepuk pundak Fawwaz.

“Subuh?” tanya Fawwaz lirih.

“Perasaan tadi baru tidur,” ujar Fawwaz.

Fawwaz memang terjaga sampai lewat tengah malam dan melupakan keinginan istrinya untuk menghabiskan malam selayaknya suami istri.
Setelah mandi, berpakaian, dan salat subuh. Fawwaz lantas berangkat kerja tanpa merasa bersalah pada Sahira.

Tak lama Fawwaz pergi, tiba-tiba terdengar ketukan kuat di pintu diiringi ucapan salam.

“Siapa pagi-pagi sudah bertamu?” gumam Sahira mendekat ke arah pintu.

Sahira membuka pintu perlahan langsung tersenyum ketika melihat kakak iparnya datang ke rumahnya.
Seketika teringat janji Sahira dengan Kak Galuh untuk pergi ke daerah Bogor yang sempat terlupakan olehnya.

“Silakan masuk, Kak Galuh,” ajak Sahira.

“Kamu ko belum siap, Ra,” keluh Kak Galuh.

“Iya, Kak. Aku lupa hehehe …, aku siap-siap dulu ya,” cengir Sahira.

Tak sampai sepuluh menit, Sahira sudah rapi dan bersiap pergi. Keduanya beranjak bersama menaiki kendaraan roda dua menuju Bogor untuk bertemu seseorang yang diharapkan mampu menyelesaikan masalah Sahira dan Fawwaz.

Setibanya di rumah sederhana dengan banyak foto-foto ulama besar terpampang di dinding, Sahira menunggu seseorang keluar dari dalam ruangan. Muncullah seorang kyai berperawakan besar, raut wajah yang menentramkan, dan pakaian putih menambah kharismatiknya.

“Ada masalah apa, Nak?” tanya sosok Kyai yang duduk di hadapan Sahira.

“Begini, Pak Kyai …,” ucap Sahira gugup.

“Saya bukan paranormal, jadi tidak bisa tebak masalah kamu, Nak?” cakap Kyai dengan sopan.

Sahira pun menceritakan masalah yang dialami dalam rumah tangganya dengan Fawwaz pada sang Kyai.

“Cerai adalah solusinya,” usul sang Kyai pada Sahira.

(Bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *