TM45H

Cinta di Batas Lapang

#Bismillah
#Day40
#NarasiLiterasiNegeri
#IndonesiaMenulis
#TantanganMenulis45Hari
#Artsamawa

#Sahira
#Cinta_di_Batas_Lapang
(Part 64)

Sahira berdiri menatap lampu jalanan dari jendela rumah kontrakan yang baru di tempatinya. Beberapa saat lalu Sahira sempat tertidur sesaat di atas kasur karena lelah menanti suaminya pulang. Di rumah kontrakan yang kecil dengan satu kamar, dapur, dan kamar mandi tanpa ruang tengah, Sahira hanya diam menunggu sekaligus menahan lapar yang mendera. Ia sangat menginginkan dapat makan bersama dengan suaminya malam itu setelah dua hari mereka tinggal di rumah kontrakan yang baru.

Jam dinding bergerak selambat siput, hampir pukul sembilan malam. Namun suaminya tak kunjung datang. Sahira membaringkan tubuhnya di atas kasur sambil menonton film drama Korea.

Denting pesan, tanda satu pesan masuk di ponsel membuat Sahira menegakkan tubuhnya. Sahira mengambil ponsel lantas membukanya, tertera nama suaminya.

[Dek, kamu tidur duluan saja. Aku pulang jam sebelas malam karena mau lari dulu sama teman kerja di gelora.]

Sahira berusaha menahan sekuat tenaga, namun air matanya jatuh jua kala membaca pesan dari Fawwaz. Kesedihan Sahira tak kunjung reda meskipun ia berusaha menghibur dirinya dengan memandang bintang di langit dari jendela kamar.

Seketika perutnya bergemuruh, Sahira beranjak ke dapur dan mengambil nasi beserta lauknya. Ia pun makan sendirian.

Usai makan, Sahira kembali duduk di atas kasur, sembari menonton televisi. Lama menunggu, Sahira pun tertidur pulas di atas kasur.

Suara pintu terbuka tak mampu membangunkan Sahira dari tidurnya, Fawwaz menatap ke arah istrinya yang tertidur lelap. Kemudian ia berganti pakaian dan tidur di samping istrinya. Keduanya tertidur lelap dan saling berpelukan.

Sejenak alam menjadi hening dalam diam seolah memberi celah azan shubuh untuk berkumandang. Membangunkan Sahira dan Fawwaz yang terlena dalam buaian mimpi indah.

Sahira beranjak dari tidurnya menuju kamar mandi hendak mengambil air wudhu untuk salat shubuh.

“Kak …,Kak …, bangun Kak,” Sahira membangunkan suaminya pelan.

“Iya,” ucap Fawwaz serak, dia terduduk dengan mata terpejam.

Setelah mandi dan berpakaian, Fawwaz langsung melaksanakan salat shubuh. Usai salat, ia menghampiri Sahira hendak berpamitan.

“Aku kerja dulu ya, Dek,” bisik Fawwaz.

“Kak, tolong jangan pulang malam lagi. Dari awal kita tinggal di rumah kontrakan yang baru ini kamu selalu pulang malam dan kita tak bisa melakukannya lagi. Aku mohon,” pinta Sahira dengan lirih.

“Iya, Dek. Aku usahakan jam delapan sudah di rumah ya,” cakap Fawwaz menenangkan Sahira.

Setelah melepas suaminya bekerja, Sahira melanjutkan aktifitasnya, merapikan rumah kemudian bersiap-siap berangkat ke kantor.

Seharian pasangan suami istri tersebut menjalankan pekerjaannya dengan rasa tanggung jawab.
Selepas isya menjelang Fawwaz pulang kerja, Sahira menyambut kedatangan suaminya di depan pintu.

Sahira mencium tangan Fawwaz, lelaki itu membalasnya dengan sebuah kecupan di kening. Sahira tampak bahagia karena lelaki itu menepati janjinya untuk tidak pulang larut malam.

Malam itu Sahira melayani Fawwaz dengan baik dengan menyajikan makanan kesukaannya dan berpakaian seksi di depan suaminya.

“Cantik banget kamu, Dek,” ungkap Fawwaz kala menatap Sahira yang mengenakan gaun merah ketat.

(Bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *